Minggu, 04 November 2012

SUMATERA UTARA


Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Ibukota nya adalah Medan

Berdiri : 7 Desember 1959
Dasar Hukum : UU 24/1956
Letak : Pulau Sumatera ( 1º-5ºLU dan 97º-101ºBT )
Tanda Plat Nomor Kendaraan : BB (Tapanuli) dan BK (Sumatera Utara)
Luas Wilayah : 71.680 km²
Bandar Udara : Polonia ( Medan )
Pelabuhan Laut : Belawan ( Medan )
Pahlawan : Si Singamangaraja XII,Kyai Haji Zainul Arifin, dll.

Perguruan Tinggi Negeri : Universitas Negeri Medan, Universitas Sumatera Utara,
IAIN Sumatera Utara.
Makanan Khas Daerah : Lalamak, Sangsang, Bika Ambon, Tasak Telu, Anyang, Gulai Tumbuk, Mie Keling, Palai Bada Sibolga,dll
Obyek Wisata : Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, Danau Toba, Pulau Nias, Taman Wisata Sikundur, Museum Perjuangan Bukit Barisan, Museum Daerah Sumatera Utara, Pantai Cermin, Kebun Binatang.

Peninggalan Sejarah :
1. Biaro Bahal, ditemukan di Padang Sidempuan.
2. Istana Maimun atau Istana Deli.
3. Candi Portibi peninggalan dari Kerajaan Hindu Panai yang memerintah sekitar tahun 1039.
4. Benteng yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit di tahun 1365.
5.Makam Batu Raja-Raja Batak.

Industri dan Pertambangan : Minyak Bumi, Kertas, Tekstil, Ban Mobil.

Tarian Tradisional : Tari Serampang Dua Belas, Tari Tor-tor
Rumah Adat : Rumah Bolon
Senjata Tradisional : Piso Surit
Lagu Daerah : Anju Ahu, Bungo Bangso, Cikala Le Pongpong, Bungo Bangso, Butet, Dago Inang Sarge, Lisoi, Madekdek Magambiri, Mariam Tomong, Nasonang Dohita Nadua, Rambadia, Sengko-Sengko, Siboga Tacinto, Sinanggar Tulo, Sing Sing So, Tapian Nauli
Suku : Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Fakfak, Batak Angkola, Batak Toba, Melayu, Nias, Batak Mandailing, dan Maya-maya
Pakaian Adat : Karo
Alat Musik Tradisional : ARAMBA (sumber bunyi : Ideofon, DIPUKUL DENGAN MENGGUNAKAN PEMUKUL KHUSUS)

Julukan : Kota Melayu Deli




Daftar Nama Nama Kabupaten di Sumatera Utara(SUMUT)

Di bawah ini saya tuliskan daftar urutan nama Kabupaten yang terdapat di Sumatera Utara (SUMUT). Semoga daftar Kabupaten yang saya tuliskan ini akan berguna bagi anda.

1 Kabupaten Asahan
Dengan ibu kota: Kisaran

2 Kabupaten Batu Bara
Dengan ibu kota: Limapuluh

3 Kabupaten Dairi
Dengan ibu kota: Sidikalang

4 Kabupaten Deli Serdang
Dengan ibu kota: Lubuk Pakam

5 Kabupaten Humbang Hasundutan
Dengan ibu kota: Dolok Sanggul

6 Kabupaten Karo
Dengan ibu kota: Kabanjahe

7 Kabupaten Labuhan Batu
Dengan ibu kota: Rantau Prapat

8 Kabupaten Labuhan Batu Selatan
Dengan ibu kota: Kota Pinang

9 Kabupaten Labuhan Batu Utara
Dengan ibu kota: Aek Kanopan

10 Kabupaten Langkat
Dengan ibu kota: Stabat

11 Kabupaten Mandailing Natal (Madina)
Dengan ibu kota: Panyabungan

12 Kabupaten Nias
Dengan ibu kota: Gunung Sitoli

13 Kabupaten Nias Barat
Dengan ibu kota: Lahomi

14 Kabupaten Nias Selatan
Dengan ibu kota: Teluk Dalam

15 Kabupaten Nias Utara
Dengan ibu kota: Lotu

16 Kabupaten Padang Lawas
Dengan ibu kota: Sibuhuan

17 Kabupaten Padang Lawas Utara
Dengan ibu kota: Gunung Tua

18 Kabupaten Pakpak Bharat
Dengan ibu kota: Salak

19 Kabupaten Samosir
Dengan ibu kota: Pangururan

20 Kabupaten Serdang Bedagai
Dengan ibu kota: Sei Rampah

21 Kabupaten Simalungun
Dengan ibu kota: Raya

22 Kabupaten Tapanuli Selatan
Dengan ibu kota: Sipirok

23 Kabupaten Tapanuli Tengah
Dengan ibu kota: Pandan

24 Kabupaten Tapanuli Utara
Dengan ibu kota: Tarutung

25 Kabupaten Toba Samosir
Dengan ibu kota: Balige

26 Kota Binjai
Dengan ibu kota: Binjai Kota



RUMAH BOLON
Rumah Adat Batak Toba disebut Rumah Bolon, yang memiliki bangunan empat persegi panjang yang kadang-kadang ditempati oleh 5 sampai 6 keluarga. Memasuki Rumah Bolon ini harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah tersebut, harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang. Hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah.


Lantai rumah adat batak ini kadang-kadang sampai 1,75m di atas tanah dan bagian bawah dipergunakan untuk memelihara hewan, seperti babi, ayam, dan sebagainya. Pintu masuk rumah adat ini, dahulunya memiliki 2 macam daun pintu yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi. Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun bersamaan disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan. Karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat

Ruangan di belakang sudut sebelah kanan dinamakan jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau porjabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Namun di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong dinamakan Jabu Soding, yang dikhususkan untuk anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Sedangkan untuk sudut kiri depan dinamakan Jabu Suhat, diperuntukkan bagi anak laki-laki tertua yang sudah nikah dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu.


Jika keluarga besar maka diadakan tempat di antara dua ruang atau jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah dua lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Walaupun rumah tersebut berdempetan, tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan tambahan. Dan di antara dua deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah.


Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan ke dalam rumah yang digunakan untuk tempat tinggal keluarga disebut ruma, dan rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan (lumbung) disebut Sopo. Bahan-bahan bangunan terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh. Dinding dari papan atau tepas, lantai juga dari papan sedangkan atap dari ijuk atau daun rumbiah. Tipe khas rumah adat Batak Toba adalah bentuk atapnya yang melengkung dan pada ujung atap sebelah depan.




 Senjata Tradisional : Piso Surit, Piso Gaja Dompak











PAKAIAN ADAT SUMATERA UTARA

PERKAWINAN MASYARAKAT MELAYU DELI
Meski tak lagi harus menjalani 27 tahapan prosesi seperti dulu, perkawinan adat masyarakat Melayu Deli tetap menarik, unik, dan menjunjung tinggi nilai kekerabatan antar keluarga.
Pada masyarakat Melayu Deli, peristiwa perkawinan mendapatkan banyak tempat yang tinggi dalam adat istiadat. Bila sebuah keluarga mencapai usia “pantas” dan telah memenuhi syarat dalam ajaran Islam maka ia disarankan untuk segera memasuki gerbang perkawinan.
Bahkan pada masa lalu tradisi yang dilakukan oleh calon pengantin Melayu Deli sangat beragam karena harus melewati serangkaian prosesi adat yang cukup panjang. Tercatat sekurangnya ada 27 tahapan yang harus dilalui oleh calon mempelai sebelum dan sesudah hari perkawinanya. Namun di masa sekarang-dimana segala sesuatunya ingin serba praktis, tetapi tetap tidak mengesampingkan nilai-nilai tradisi-maka rangkaian prosesi perkawinan lebih disederhanakan, disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Berikut beberapa prosesi adat perkawinan yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat Melayu Deli.
Tahapan Merisik

Dalam tata cara perkawinan masyarakat Melayu Deli yang pertama kali dilakukan adalah tahapan merisik yaitu pihak keluarga laki-laki mengirimkan seorang utusan (disebut telangkai) ke rumah seorang gadis untuk mengenal serta menanyakan apakah gadis itu sudah ada yang punya atau belum. Jika belum, maka sang telangkai akan langsung menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya untuk meminang si gadis sekaligus membuat ikatan dengan keluarganya. Dari sini, telangkai berharap mendapatkan jawaban positif agar tahapan adat dapat dilanjutkan ke tingkatan yang lebih serius lagi.


Tahapan Meminang
Pada hari yang telah disepakati bersama, rombongan keluarga calon mempelai pria akan datang ke rumah keluarga calon mempelai wanita sambil membawa tepak sirih dan sebentuk cincin sebagai tanda pengikat. Biasanya jumlah tepak sirih yang dibawa sejumlah lima buah atau lebih, disesuaikan dengan kedudukan (status sosial) dalam masyarakat. Tepak sirih dalam adta Melayu Deli merupakan alat untuk mengesahkan segala sesuatu (kesepakatan) yang telah dibuat bersama.
Acara meminang ini dipandu oleh telangkai yang biasanya berjumlah enam orang, dan mereka duduk saling berhadapan. Telangkai akan menyampaikan maksud meminang sang gadis dengan cara berpantun, di mana hal ini melambangkan tingginya martabat seorang wanita. Dalam acara ini juga akan disebutkan syarat-syarat adat yang diminta oleh pihak keluarga mempelai wanita seperti mahar (mas kawin), seperangkat pakaian wanita, peralatan atau perabotan kamar, termasuk “uang kasih sayang” yaitu bantuan keluarga calon pria untuk membiayai pesta. Apabila keluarga pria menyanggupinya maka akan diadakan acara bertukar tepak antar dua keluarga sebagai tanda pinangan telah diterima.
Setelah peminangan selesai, selanjutnya akan diadakan acara ikat janji untuk membicarakan mengenai pelunasan syarat-syarat adat yang pernah diminta oleh pihak keluarga wanita, termasuk mengenai hari baik pelaksanaan perkawinan. Setelah penyerahan maka utusan masing-masing keluarga akan bertukar tepak dan bersalaman sebagai tanda kedua keluarga tersebut telah terikat perjanjian dan apabila dilanggar maka akan dikenakan sanksi atau hukuman.

Berinai
Sehari sebelum akad nikah dilakukan, kedua calon pengantin akan dibersihkan dengan cara ditepung-tawari sebagai simbol restu yang diberikan oleh para sesepuh. Biasanya sebelum melakukan acara tepung tawar, calon pengantin wanita harus sudah khatam Al-Qur’an. Pada malam harinya akan diselenggarakan pemakaian daun pacar atau inai yaitu sejenis tanaman yang ditumbuk halus dan menghasilkan warna merah lalu ditempelkan pada kuku-kuku jari tangan dan kaki mempelai. Pada malam inai ini juga akan dimeriahkan dengan bunyi-bunyian gendang beserta nyanyian dan tarian gambus.
Upacara Akad Nikah
Akad nikah dilakukan untuk mempersatukan dua anak manusia menurut tata cara adat dan agama, di mana pengantin pria akan mengucapkan ijab Kabul sebagai syarat sahnya sebuah ikatan perkawinan. Untuk menyambut sejumlah upacara adat yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Melayu Deli.
Pada hari H setelah semua persiapan perkawinan selesai dilakukan, pengantin pria beserta rombongannya datang menuju kediaman wanita. Sekitar 100-200 meter sebelum tiba di sana, rombongan akan berhenti sejenak untuk mengabarkan kepada keluarga pengantin wanita agar bersiap-siap menyambut kedatangan rombongan. Dalam acara ini akan dipimpin oleh para telangkai adat. Mereka akan berpantun sebagai ucapan selamat datang. Setibanya rombongan pengantin pria di halaman rumah pengantin wanita, upacara adat akan langsung dimulai dengan acara hempang batang. Pada acara ini jalan masuk yang akan dilalui rombongan akan dihadang oleh dua orang pemuda sambil memegang sebatang dahan kelapa sebagai penghadang. Seorang juru bicara akan menyerahkan kunci emas kepada kedua penjaga agar rombongan diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Sebelum memberi izin para para penjaga akan memastikan terlebih dahulu apakah syarat adat yang dibawa telah sesuai dengan yang diminta.
Selanjutnya akan dilakukan acara silat berlaga, dimana pengantin pria akan menjadi pendekar. Dan sebagai tanda perdamaian, dilakukan acara tukar tepak di tengah halaman rumah. Setelah itu di adakan acara tukar payung yang bertujuan untuk menyambut kedatangan pengantin pria beserta rombonganya. Lalu dua orang ibu menaburi pengantin pria dengan bunga rampai yang disebut dengan acara perang bertih atau bunga rampai.
Selanjutnya rombongan akan disambut dengan persembahan tarian sambutan di depan pintu masuk. Tetapi sebelum masuk, pengantin pria dan rombonganya akan kembali dihadang oleh dua orang pemuda yang membentangkan sebuah kain panjang di depan pintu masuk yang disebut hempang pintu (palang pintu) ini seorang utusan akan meminta pintu dibuka sambil berpantun dan sang penjaga akan mengajukan syarat yaitu melihat apakah jari tangan pengantin pria sudah diberi inai atau belum. Sesudahnya pengantin pria akan melakukan upacara sembah mertua.
Selanjutnya pengantin pria akan di antar menuju pelaminan. Namun sesampai disana dia tidak langsung diperbolehkan duduk di pelaminan yang sedang dijaga oleh dua orang wanita yang merentangkan kain panjang. Pada acara yang disebut hempang kipas ini para penjaga ini ingin kembali memastikan syarat adat yang harus diberikan. Sesudahnya kedua mempelai baru diperbolehkan bersanding di pelaminan untuk melakukan acar bertukar sirih genggam sebagai tanda bahwa seorang suami harus menghidupi istrinya dan sebaliknya sebagai istri harus melayani suaminya.
Setelah itu diadakan acara doa bersama yang dilanjutkan dengan acara tepung tawar sebagai tradisi turun menurun yang telah lama dilakukan masyarakat Melayu guna menyucikan diri. Lalu kedua pengantin akan melakukan acara makan hadap-hadapan lengkap dengan lauk-pauknya dan aneka kue. Acara ini hanya diperbolehkan di hadiri oleh ibu-ibu dari kedua belah pihak. Tempat nasi akan diputar sebanyak tiga kali lalu dilakukan acara berebut ayam panggang sambil bersulang makanan dan minuman. Makna dari acara ini adalah suami-istri saling melayani sebagai tanda cinta kasih yang murni.
Kemudian acara akan diakhiri dengan serah terima pengantin. Pada acara ini, sebelum rombongan pengantin pria pulang ke rumahnya, terlebih dahulu pengantin pria akan diserahkan kepada keluarga pengantin wanita. Hal ini, menandakan, mulai saat itu pula pengantin pria telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar pengantin wanita.
Dengan demikian keseluruhan prosesi adat telah selesai dilakukan dan acara pun dapat dilanjutkan dengan upacara resepsi. Dalam acara ini kedua mempelai dan seluruh keluarga besar yang sedang berbahagia menerima sejumlah ucapan selamat dari para tamu yang datang.



RANGKAIAN RITUS PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA
a) Ritus
Secara umum, dalam adat Batak Toba, upacara perkawinan didahului oleh upacara pertunangan. Upacara ini bersifat khusus dan otonom; diakhiri dengan tata cara yang menjamin, baik awal penyatuan kedua calon pengantin ke dalam lingkungan baru, maupun perpisahan dan peralihan dari masa peralihan tetap, sebagaimana akan diteguhkan dalam upacara perkawinan.
Dengan demikian, tata upacara perkawinan terdiri dari “tata cara penyatuan tetap atau permanen” ke dalam lingkungan (sosial) baru, dan tata cara penyatuan yang bersifat personal. (Arnold van Gennep, The Rites of Passage. London & Henley: Routledge & Kegan Paul, 1965, hlm. 116].
Berdasarkan jenisnya ritus atau tata cara yang digunakan, perkawinan adat Bata Toba dibagi menjadi 3 (tiga) tingkatan:
  1. Unjuk: ritus perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan semua prosedur adat Batak Dalihan Na Tolu. Inilah yang disebut sebagai tata upacara ritus perkawinan biasa (unjuk);
  2. Mangadati: ritus perkawinan yang dilaksanakan tidak berdasarkan adat Batak Dalihan Na Tolu, sehingga pasangan yang bersangkutan mangalua atau kawin lari, tetapi ritusnya sendiri dilakukan sebelum pasangan tersebut memiliki anak; dan
  3. Pasahat sulang-sulang ni pahoppu: ritus perkawinan yang dilakukan di luar adat Batak Dalihan Na Tolu, sehingga pasangan bersangkutan mangalua dan ritusnya diadakan setelah memiliki anak.
b) Fungsi dan Peran
Kompleksitas upacara perkawinan adat Batak Toba meliputi peran subyek dan objek yang terlibat di dalamnya. Menurut Arnold van Gennep (Arnold van Gennep, hlm. 117-118.), kompleksitas upacara perkawinan dapat dijelaskan dalam 5 (lima) pokok permasalahan: dua jenis yang berbeda, garis keturunan, keluarga, suku, dan tempat tinggal:
The collectivities in question are: the two sex groups, sometimes represented by the ushers and bridesmaids, or by the male relatives on one hand and the female relatives on the other; patrilineal or matrilineal descent groups; the families of each spouse in the usual sense of the word, and sometimes families broadly speaking, including all relatives; groups such as a totem clan, fraternity, age group, community of the faithful, occupational association, or caste to which one or both of the young people, their mothers and fathers, or all their relatives belong; the local group (hamlet, village, quarter of a city, plantation,etc).
Uniknya, dalam ritus perkawinan adat Batak Toba, selain kedua mempelai juga dilibatkan seluruh perangkat masyarakat. Perbedaannya, peran-peran dalam rangkaian upacara perkawinan adat Batak Toba selalu terkait dengan tiga kedudukan utama dalam adat: dongan-sabutuha / dongan-tubuhulahula, dan boru.
c) Pertukaran Prestasi
Selain pentingnya inisiasi (masa peralihan) dan peran-peran yang terlibat, perkawinan juga menyangkut aspek ekonomi dengan segala macam kepentingan di dalamnya, termasuk dalam hal perencanaan pesta perkawinan yang akan dilaksanakan. Peranan dasar aspek ekonomi ini, misalnya, tampak jelas dalam menetapkan jumlah uang, pembayaran, pengembalian pembayaran: harga pengantin (sinamot), pembayaran para pelayanan pengantin selama upacara perkawinan berlangsung, dst..
Konsep “pembayaran” dalam perkawinan adapt mencakup “pembayaran” oleh pihak pengantin laki-laki atau kerabatnya kepada ayah atau pemelihara pengantin wanita. Pembayaran ini bahkan merupakan bagian utama dari pengesahan perkawinan menurut adat Batak Toba. Bila pertukaran ini sudah sudah terpenuhi, maka perkawinan itu menjadi sah dan keluarga yang baru itu sudah mandiri; dan bila sebaliknya yang terjadi, maka pengantin pria harus membaktikan diri untuk keluarga wanita sampai tuntutan nikah ini terpenuhi (Bdk. Kisah Yakub dan Rahel dalam Kej 29:20). Artinya, pengesahan suatu perkawinan mencakup seluruh rangkaian “prestasi” : suatu tindakan membayar apa yang dituntut adat / tuntutan adat untuk membayar sesuatu yang berasal dari usaha atau kemampuan seseorang.
Pertimbangannya adalah jika keluarga, desa, atau suku tertentu kehilangan anggota-anggotanya yang produktif (laki-laki atau perempuan yang akan menikah), sedikitnya haruslah memperoleh “imbalan” dari pihak yang “mendapatkan” mereka. Dalam upacara perkawinan adapt Batak Toba, hal ini dijelaskan dalam tindakan simbolik pembagian makanan, pakaian, perhiasan, dan diatas semuanya itu banyak tata cara yang mencakup “uang tebusan”.
“Tebusan-tebusan” ini selalu terjadi pada waktu bersamaan dengan upacara-upacara perpisahan. Harga mempelai wanita, menurut hukum adat, dimiliki oleh anak perempuan; dan kesepakatan itu ditinjau dari makan bersama, saling mengunjungi diantara keluarga-keluarga, pertukaran hadiah-hadiah yang diberikan oleh para kerabat, sahabat, dan tetangga.
KEKHASAN PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA
a) Ciri-Ciri
Proses perkawinan dalam adat kebudayaan Batak-Toba menganut hukum eksogami (perkawinan di luar kelompok suku tertentu). Ini terlihat dalam kenyataan bahwa dalam masyarakat Batak-Toba: orang tidak mengambil isteri dari kalangan kelompok marga sendiri (namariboto), perempuan meninggalkan kelompoknya dan pindah ke kelompok suami, dan bersifat patrilineal, dengan tujuan untuk melestarikan galur suami di dalam garis lelaki. Hak tanah, milik, nama, dan jabatan hanya dapat diwarisi oleh garis laki-laki.
Ada 2 (dua) ciri utama perkawinan ideal dalam masyarakat Batak-Toba, yakni (1) Berdasarkan rongkap ni tondi (jodoh) dari kedua mempelai; dan (2) Mengandaikan kedua mempelai memiliki rongkap ni gabe (kebahagiaan, kesejahteraan), dan demikian mereka akan dikaruniai banyak anak.
Sementara ketidakrukunan antara suami-isteri terjadi apabila tondi mereka tidak bisa lagi hidup rukun (so olo marrongkap tondina) dan itu akan tampak di kemudian hari. Ketidakrukunan ini mungkin akan mengakibatkan terjadinya perceraian. Sebaliknya, sekali mereka sudah melahirkan anak, ikatan antar-pasangan akan semakin kuat dan ikatan cinta semakin kokoh. Hukum eksogami, sebagaimana telah disinggung di atas, bahkan sudah melekat dalam diri setiap orang Batak Toba hingga sekarang. Maka, kiranya tidak mengherankan, apabila masih ada ketakutan untuk melanggarnya.
Hambatan untuk benar-benar mematahkan belenggu eksogami adalah rasa takut akan meledaknya roh para leluhur. Rasa takut itu semakin meningkat oleh munculnya beberapa kasus, yaitu pelanggaran sengaja yang dilakukan oleh beberapa pasangan terhadap larangan marsubang (tabu) yang berakhir buruk bagi para pelakunya.
  1. Marsumbang/Marsubang. Yang termasuk pelanggaran, antara lain na tarboan-boan rohana (yang dikuasai oleh nafsu-keinginan), yakni orang yang menjalankan sumbang terhadap iboto (saudara perempuan dari anggota marga sendiri). Selain larangan marsubang, hubungan lain yang tidak diperkenenkan adalah marpadanpadan (kumpul kebo).
  2. Marpadan-padan (kumpul kebo). Marsumbang baru dibolehkan jika perkawinan yang pernah diadakan di antara kedua kelompok tidak diulangi lagi selama beberapa generasi. Jika terjadi pelanggaran terhadap larangan itu, maka pendapat umum dan alat kekuasaan masyarakat akan diminta turun tangan. Ritusnya adalah sebagai berikut: gondang mangkuling, babiat tumale (gong bertalu-talu, harimau mengaum), artinya, rakyat akan berkumpul untuk menangkap dan menghukum si pelaku. Peribahasa yang digunakan untuk semua tindakan yang melanggar susila adalah: “Manuan bulu di lapang-lapang ni bab; Mamungka na so uhum, mambahen na so jadi.” (menanam bambu di tempat babi berlalu, tidak taat hukum dan menjalankan yang tabu).
Perkawinan yang dilakukan atas pelanggaran dinyatakan batal. Lelaki yang berbuat demikian, serta pihak parboru diwajibkan melakukan pertobatan (manopoti/pauli uhum) atau dinyatakan di luar hukum (dipaduru di ruar ni patik), dikucilkan dari kehidupan sosial sebagaimana yang ditentukan oleh adat.
Ritusnya adalah sbb.
  • Pihak-pihak yang melanggar harus mempersembahkan jamuan yang terdiri dari daging dan nasi (manjuhuti mangindahani).
  • Kerbau atau sapi disembelih demi memperbaiki nama para kepala dan ketua yang tercemar karena kejadian itu. makanan yang dihidangkan sekaligus merupakan pentahiran (panagurasion) terhadap tanah dan penghuninya.
TAHAPAN PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA
Perkawinan Adat Batak Toba pada dasarnya sangat dinamis, indah dan penuh makna magis. Namun, di jaman ini ritual semacam ini kerap dinilai berlebihan, rumit dan bertele-tele.
A. Paranakkon Hata:
  1. Paranakkon hata artinya menyampaikan pinangan oleh paranak (pihak laki-laki) kepada parboru (pihak perempuan);
  2. Pihak perempuan langsung memberi jawaban kepada ‘suruhan’ pihak laki-laki pada hari itu juga; dan
  3. Pihak yang disuruh paranak panakkok hata masing-masing satu orang dongan tubu, boru, dan dongan sahuta.
B. Marhusip
  1. Marhusip artinya membicarakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh pihak paranak sesuai dengan ketentuan adat setempat (ruhut adat di huta i) dan sesuai dengan keinginan parboru (pihak perempuan);
  2. Pada tahap ini tidak pernah dibicarakan maskawin (sinamot). Yang dibicarakan hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan marhata sinamot dan ketentuan lainnya; dan
  3. Pihak yang disuruh marhusip ialah masing-masing satu orang dongan-tubu, boru-tubu, dan dongan-sahuta.
C. Marhata Sinamot
  1. Pihak yang ikut marhata sinamot adalah masing-masing 2-3 orang dari dongan-tubu, boru dan dongan-sahuta.
  2. Mereka tidak membawa makanan apa-apa, kecuali makanan ringan dan minuman.
  3. Yang dibicarakan hanya mengenai sinamot dan jambar sinamot.
D. Marpudun Saut
Dalam Marpudun saut sudah diputuskan: ketentuan yang pasti mengenai sinamot, ketentuan jambar sinamot kepada si jalo todoan, ketentuan sinamot kepada parjambar na gok, ketentuan sinamot kepada parjambar sinamot, parjuhut, jambar juhut, tempat upacara, tanggal upacara, ketentuan mengenai ulos yang akan digunakan, ketentuan mengenai ulos-ulos kepada pihak paranak, dan ketentuan tentang adat.
Tahapannya sbb.:
  1. Marpudun saut artinya merealisasikan apa yang dikatakan dalam Paranak Hata, Marhusip, dan marhata sinamot; dan
  2. Semua yang dibicarakan pada ketiga tingkat pembicaraan sebelumnya dipudun (disimpulkan, dirangkum) menjadi satu untuk selanjutnya disahkan oleh tua-tua adat. Itulah yang dimaksud dengan dipudun saut.
Setelah semua itu diputuskan dan disahkan oleh pihak paranak dan parboru, maka tahap selanjutnya adalah menyerahkan bohi ni sinamot (uang muka maskawin) kepada parboru sesuai dengan yang dibicarakan.setelah bohi ni sinamot sampai kepada parboru, barulah diadakan makan bersama dan padalan jambar (pembagian jambar). Dalam mardipudun saut tidak ada pembicaraan tawarmenawar sinamot, karena langsung diberitahukan kepada hadirin, kemudian parsinabung parboru mengambil alih pembicaraan. Pariban adalah pihak pertama yang diberi kesempatan untuk berbicara, disusul oleh simandokkon, pamarai, dan terkahir oleh Tulang. Setelah selesai pembicaraan dengan si jalo todoan maka keputusan parboru sudah selesai; selanjutnya keputusan itu disampaikan kepada paranak untuk melaksanakan penyerahan bohi ni sinamot dan bohi ni sijalo todoan. Sisanya akan diserahkan pada puncak acara, yakni pada saat upacara perkawinan nanti.).
E. Unjuk
Semua upacara perkawinan (ulaon unjuk) harus dilakukan di halaman pihak perempuan (alaman ni parboru), di mana pun upacara dilangsungkan. Berikut adalah tata geraknya:
  1. Memanggil liat ni Tulang ni boru muli dilanjutkan dengan menentukan tempat duduk.[Mengenai tempat duduk di dalam upacara perkawinan diuraikan dalam Dalihan Na Tolu.
  2. Mempersiapkan makanan,
  3. Paranak memberikan Na Margoar Ni Sipanganon dari parjuhut horbo,
  4. Parboru menyampaikan dengke (ikan, biasanya ikan mas),
  5. Doa makan,
  6. Membagikan Jambar,
  7. Marhata adat – yang terdiri dari [1] tanggapan oleh parsinabung ni paranak, [2] dilanjutkan oleh parsinabung ni parboru, [3] Tanggapan parsinabung ni paranak, [4] tanggapan parsinabung ni parboru,
  8. Pasahat sinamot dan todoan,
  9. Mangulosi, dan
  10. Padalan Olopolop.
F. Tangiang Parujungan
Doa penutut pertanda selesainya upacara perkawinan adat Batak Toba.




PAKAIAN ADAT KARO
Berikut adalah jenis-jenis pakaiat adat Karo sekaligus fungsi-fungsi dari pakaian adat tersebut:
Uis nipes 
Untuk tudung, “maneh-maneh” (kado untuk perempuan), untuk mengganti pakaian orang tua (pihak perempuan) dan sebagai alas “pinggan pasu” (piring) pada saat memberikan mas kawin dalam upacara adat.

Uis julu
Untuk sarung, “maneh-maneh”, untuk mengganti pakaian orang tua (untuk laki-laki) dan selimut.

Gatip gewang 
Untuk menggendong bayi perempuan dan “abit” (sarung) laki-laki

Gatip jongkit
Untuk “gonje” (sarung) upacara adat bagi laki-laki dan selimut bagi “kalimbubu” (paman).

Gatip cukcak 
Kegunaannya sama dengan gatip gewang, bedanya adalah gatip cukcak ini tidak pakai benang emas.

Uis pementing 
Untuk ikat pinggang bagi laki-laki

Batu jala
Untuk tudung bagi anak gadis pada pesta “guro-guro aron”. Boleh juga dipakai laki-laki, tapi harus 3 lapis, yaitu: uis batu jala, uis rambu-rambu dan uis kelam-kelam.

Uis arinteneng
Sebagai alas waktu menjalankan mas kawin dan alas piring tempat makan pada waktu “mukul” (acara makan pada saat memasuki pelaminan), untuk memanggil roh, untuk “lanam” (alas menjunjung kayu api waktu memasuki rumah baru), untuk “upah tendi” (upah roh), diberikan sebagai penggendong bayi dan alas bibit padi.

Uis kelam-kelam
Untuk tudung orang tua, untuk “morah-morah” (kado untuk laki-laki), dan boleh juga dipakai oleh laki-laki dalam upacara adat, tapi disertai batu jala dan rambu-rambu.

Uis cobar dibata 
Untuk upacara kepercayaan, seperti “uis jinujung”, “berlangir” dan “ngelandekken galuh”.

Uis beka buluh 
Untuk “bulang-bulang” diikatkan di kepala laki-laki pada upacara adat.

Uis gara 
Untuk penggendong anak-anak, tudung untuk orang tua dan anak gadis.

Uis jujung-jujungen 
Untuk melapisi bagian atas tudung bagi kaum wanita yang mengenakan tudung dalam upacara adat.


PAKAIAN ADAT NIAS
Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:
  • Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.
  • Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit.
  • Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
  • Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.

Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang, sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. Pada busana pengantin pria Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum), dan dililit dengan ulos ragi hotang.
Pada suku bangsa Batak Simalungun, kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. Bulang terbuat dari emas, tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Bulang terdiri dari tiga macam, masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo. -->

Seiring dengan perkembangan zaman, tampilan pengantin adat Batak sedikit banyak mengalami perubahan. Saat ini pengantin pria lebih banyak menyukai jas modern yang dipadupadankan dengan ulos.

Sedangkan kebaya yang dikenakan pengantin wanita lebih bervariasi. Perhiasan serta bunga yang dipakai pun dimodifikasi dengan maksud menambah pesona yang terpancar. Walaupun demikian, kebaya tersebut tak meninggalkan ciri khas kedaerahan.


ADAT ISTIADAT MANDAILING
Adat istiadat suku Mandailing diatur dalam Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga), yang selalu dibacakan dalam upacara-upacara adat. Orang Mandailing mengenal tulisan yang dinamakan Aksara Tulak-Tulak, yang merupakan varian dari aksara Proto-Sumatera, yang berasal dari huruf Pallawa, bentuknya tak berbeda dengan Aksara Minangkabau, Aksara Rencong dari Aceh, Aksara Sunda Kuna, dan Aksara Nusantara lainnya. Meskipun Suku Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak dan dipergunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha (pustaka). Namun amat sulit menemukan catatan sejarah mengenai Mandailing sebelum abad ke-19. Umumnya pustaka-pustaka ini berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan-ramalan tentang waktu yang baik dan buruk, serta ramalan mimpi.


SUKU SIMALUNGUN
Suku Simalungun atau juga disebut Batak Simalungun adalah salah satu suku asli dari provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.
Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku "Si Balungu" dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.




ALAT MUSIK TRADISIONAL

ALAT MUSIK TRADISIONAL KARO

kulcapi karo Alat Musik Karo
SIERJABATEN
Sierjabaten begitulah sebutan Orang Karo kepada pemain musik tradisional-nya, dimana mereka (Sierjabaten atau penggual) berfungsi sebagai pengiring musik upacara adat Suku Karo, baik itu pernikahan, pesta panen, Kemalangan atau lainnya. Jadi dari hal tersebut maka sebenarnya profesi ini bisa dibilang sudah cukup lama sekali ada dalam perkembangan dan perjalanan hidup Suku Karo. Mengenai kepastian mulai kapan julukan atau penamaan ini mulai dikenal dan di populerkan saya kurang tau pasti , yang jelas profesi ini berkaitan sekali dengan kesenian tradisional Suku Karo. Jadi menurut saya mereka mulai dikenal ketika masyarakat Karo menyadari kebutuhan akan hiburan dalan setiap acara adat mereka.
Pada kenyataanya peran serta mereka sangatlah vital dalam setiap acara pesta adat, sebab tanpa mereka sebuah acara adat tidak lengkap dan sempurna, mereka adalah sekumpulan penghibur juga bisa dibilang irama, nyawa dan tolak ukur kemeriahan sebuah acara adat. Semakin hebat keahlian mereka dalam bermain musik maka makin tinggi pula pamor mereka (Sierjabaten) dimata masayarakat Karo.
Sierjabaten memiliki keahlian dalam bemain berbagai macam alat musik tradisoanal Karo yang terdiri atas Sarune, Gendang Singanaki, Gendang singindungi, Gendang penganak, dan gung. Setiap pemain alat musik mempunyai nama masing masing sesuai dengan alat musik yang mereka mainkan, pemain sarune disebut panarune, pemain gendang (singanaki dan singindungi) disebut penggua, dan pemain penganak disebut simalu penganak, dan pemain gung disebut simalu gung, serta pemain mangkuk michiho disebut simalu mangkuk michiho.
Untuk lebih jelasnya berikut ini penjelasan mengenai setiap alat musik Tradisonal Karo :


A. Sarune.
    a. Anak-anak sarune, terbuat dari daun kelapa dan embulu-embulu (pipa kecil) diameter 1 mm dan panjang 3-4 mm. Daun kelapa dipilih yang sudah tua dan kering. Daun dibentuk triangel sebanyak dua lembar. Salah satu sudut dari kedua lembaran daun yang dibentuk diikatkan pada embulu-embulu, dengan posisi kedua sudut daun tersebut,
    b.Tongkeh sarune, bagian ini berguna untuk menghubungkan anak-anak sarune. Biasanya dibuat dari timah, panjangnya sama dengan jarak antara satu lobang nada dengan nada yang lain pada lobang sarune,
    c. ampang-ampang sarune, bagian ini ditempatkan pada embulu-embulu sarune yang berguna untuk penampung bibir pada saat meniup sarune. Bentuknya melingkar dnegan diameter 3 cm dan ketebalan 2 mm. Dibuat dari bahan tulang (hewan), tempurung, atau perak,
    d. batang sarune, bagian ini adalah tempat lobang nada sarune, bentuknya konis baik bagian dalam maupun luar. Sarune mempunyai delapan buah lobang nada. Tujuh di sisi atas dan satu di belakang. Jarak lobang 1 ke lobang adalah 4,6 cm dan jarak lobang VII ke ujung sarune 5,6 cm. Jarak antara tiap-tiap lobang nada adalah 2 cm, dan jarak lubang bagian belakang ke lempengan 5,6 cm.
    e. gundal sarune, letaknya pada bagian bawah batang sarune. Gundal sarune terbuat dari bahan yang sama dengan batang sarune. Bentuk bagian dalamnya barel, sedangkan bentuk bagian luarnya konis. ukuran panjang gundal sarune tergantung panjang batang sarune yaitu 5/9.
B. Gendang
Alat musik gendang adalah berfungsi membawa ritme variasi. Alat ini dapat diklasifikasi ke dalam kelompok membranofon konis ganda yang dipukul dengan dua stik. Dalam budaya musik Karo gendang ini terdiri dari dua jenis yaitu gendang singanaki (anak) dan gendang singindung (induk). Gendang singanaki di tambahi bagian gerantung. Bagian-bagian gendang anak dan induk adalah sama, yang berbeda adalah ukuran dan fungsi estetis akustiknya. Bagian-bagian gendang itu adalah:
    tutup gendang, yaitu bagian ujung konis atas. Tutup gendang ini terbuat dari kulit napuh (kancil). Kulit napuh ini dipasang ke bingkai bibir penampang endang. Bingkainya terbuat dari bambu.
    Tali gendang lazim disebut dengan tarik gendang terbuat dari kayu nangka(Artocarpus integra sp). Salah satu sampel contoh ukuran untuk bagian atas gendang anak adalah 5 cm, diameter bagian bawah 4 cm dan keseluruhan 44 cm. ukuran gendang kecil yang dilekatkan pada gendang anak, diameter bagian atas 4 cm, diameter bagian bawah 3 cm, dan panjang keseluruhan 11,5 cm. Alat pukulnya (stik) terbuat dari kayu
    jeruk purut. Alat pukul gendang keduanya sama besar dan bentuknya. Panjangnya 14 cm dan penampang dan penampung relatif 2 cm.
    Untuk gendang indung, diameter bagian atas 5,5 cm, bagian bawah 4,5 cm, panjang keseluruhan 45,5 cm. Bahan alat pukulnya juga terbuat dari kayu jeruk purut. Ukuran alat pukul ini berbeda yaitu yang kanan penampangnya lebih besar dari yang kiri, yaitu 2 cm untuk kanan dan 0,6 cm untuk kiri. Panjang keduanya sama 14 cm.
C. Gung dan penganak
Yaitu pengatur ritme musik tradisional Karo. Gung ini diklasifikasikan ke dalam kategori idiofon yang terbuat dari logam yang cara memainkannya digantung. Gung terbuat dari tembaga, berbentuk bundar mempunyai pencu. Gung dalam musik tradisional Karo terbagi dua yaitu gung penganak dangung. Salah satu contoh ukuran gung penganak diameternya 15,6 cm dengan pencu 4 cm dan ketebalan sisi lingkarannya 2,8 cm. Pemukulnya terbuat dari kayu dan dilapis dengan karet. Gung mempunyai diameter 65 cm dengan pencu berdiameter 15 cm dan tebal sisi lingkarannya 10 cm. Pemukulnya terbuat dari kayu dan dilapisi karet.
Demikianlah sedikit informasi dan pembahasan yang saya dapat dari internet, semoga berguna. Pesan moral yang ingin saya sampaikan adalanh, saat ini sulit sekali menemui Sierjabaten yang Tradisional, karena saat ini lebih banyak dan lebih populer Sierjabaten yang mengunakan alat Moderen yang lebih dikenal dengan Keyboard (Pekeyboard)…Gendang Karo tradisoanal mulai tergeser dengan gendang karo moderen…Olah sebap itu mari kita lestarikan seni musik tradisional Karo sebagai salah satu identitas Suku Karo yang tidak boleh hilang.

Jenis-Jenis Alat Musik Tradisional Batak Karo adalah :
Alat Musik Tiup
. Baluat (balobat) Pingko-Pingko
. Baluat Gendek
. Surdam Puntung
. Surdam Rumamis
. Surdam Belin (Surdam Tangko Kuda)
. Sarunai
Alat Musik Gesek
. Murbab
Alat Musik Petik
. Kulcapi
Alat Musik Pukul
. Keteng-Keteng
. Gendang Singanaki
. Gendang Singindungi
. Gung
. Panganak (Canang)
Alat Musik Tiup/Petik
Genggong



BALUAT (BALOBAT) PINGKO-PINGKO
Alat Musik Batak Karo ini terbuat dari bambu ukuran kecil dengan 5 lubang ditengah dan sebuah lubanh di bagian bawah. Panjang alat musik ini kurang lebih 32 cm dengan diameter penampang kira-kira 1,5 cm. Pada baluat ini sering dibuat ukiran tupak salah silima-lima, keret-keret ketadu dan ipen-ipen.
Alat Musik batak karo ini adalah jenis alat musik tiup yang suaranya cukup lembut dan dapat digunakan untuk banyak macam lagu, sering digunakan oleh anak-anak pada malam hari dan ditiup oleh pengembala sapi di padang rumput.
Baluat Gendek
Bahan yang digunakan untuk membuat alat musik batak Karo ini sama dengan Baluat Pingko-Pingko dengan lubang berjumlah 6, lima di tengah dan satu di bagian bawah. Panjang baluat ini kurang lebih 25 cm dengan diameter penampang 1,5 cm.
Suara yang dihasilkan Baluat Gendek ini keras dan dapat digunakan untuk bermacam lagu. Alat musik ini sering digunakan pada upacara adat seperti erpangkir ku lau (dibantu alat pengiring keteng-keteng) dan pada waktu raleng tendi (memanggil roh manusia yang telah meninggal)
Surdam Puntung
Sama seperti Baluat, bahan yang digunakan adalah bambu tetapi ukurannya lebih besar, dengan panjan 40 cm dan luas penampang 2.5 cm. Ukiran pada Surdam puntung ini bervariasi seperti tupak salah silima-lima, ipen-ipen, keret-keret ketadu dan lain-lain.
Suara Surdam Puntung ini sangat kuat dan biasa dipakai pengembala di padang rumput
Surdam Rumamis
Surdam Belin (Surdam Tangko Kuda)
Keteng-Keteng
Kulcapi
Murbab
Sarunai
Gendang Singindungi
Gendang Singanaki
Genggong
Gung
Penganak



ALAT MUSIK TRADISIONAL BATAK TOBA

Sarune Batak Toba 300x225 Perbedaan Sarune (Alat Musik Tiup Suku Batak) pada Suku Batak Toba dan KaroSERUNE

Kalau kita dengar istilah “musik Batak”, apakah yang muncul dalam pikiran kita? Istilah “Batak” berkenaan dengan sesuatu bangsa besar yang mengandung beberapa suku yang kebudayaannya dan bahasanya berhubungan, tetapi juga berbeda.
Suku Batak termasuk suku Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak – Dairi, Mandiling, dan Angkola. Menurut kebiasaan di Indonesia, kalau kita dengar akta “Batak” kita biasanya pikir tentang kebudayaan Batak Toba. Kemudian, kecuali kita yang bekerja dalam suasana anthropologi atau etnomusikolog, istilah “musik batak” hampir selalu disamakan dengan musik “Batak Toba”. Kalau kita pikir tentang musik Batak, apakah itu yang timbul dalam akal kita? Dalam koat-kota besar seperti Medan, jawabnya hampir selalu terkait dengan musik pop Batak seperti musik trio vokal yang biasanya bisa didengar di pesta kawin, siaran, siaran radio musik Batak, Karaoke, lapotuak, dsb.
Pada masyarakat Toba atau Tapanuli Utara terdapat beberapa jenis ensambel musik, yaitu Gondang sabangunan, Gondang hasapi, dan Uning-Uningan. Gondang Sabangunan merupakan ensambel musik terbesar yang terdapat di Toba. Ensambel musik ini juga digunakan untuk upacara-upacara adat yang besar. Disamping gondang sabangunan, gondang hasapi adalah ensambel lebih kecil, kemudian uning-uningan. Sebutan untuk pemain musik ini secara keseluruhan walaupun penyebutan untuk masing-masing instrumen juga ada disebut porgonsi. Terkadang disebut ‘Panggul pargonsi’ saja. Disamping ensambel tersebut juga masih terdapat alat-alat musik berupa solo instrumen dan yang digunakan sebagai alat-alat mendukung permainan atau lebih bersifat pribadi.
Pada masyarakat Karo, kutaraya 0405 mengatakan “Sierjabetan begitulah sebutan Orang Karo kepada pemain musik tradisional-nya, dimana mereka (Sirejabaten atau penggual) berfungsi sebagai pengiring musik upacara adat Suku Karo, baik itu pernikahan, pesta panen, kemalangan atau lainnya”. Jadi hari hal tersebut maka sebenarnya profesi ini bisa dibilang sudah cukup lama sekali ada dalam perkembangan dan perjalanan hidup Suku Karo. Jadi menurut saya mereka mulai dikenal ketika masyarakat Karo menyadari kebutuhan akan hiburan dalam setiap acara adat mereka. Pada kenyataannya peran serta mereka sangatlah vital dalam setiap acara pesta adat, sebab tanpa mereka sebuah acara adat tidak lengkap dan sempurna, meraka adalah sekumpulan penghibur juga bisa dibilang irama, nyawa dan tolak ukur kemeriahan sebuah acara adat. Semakin hebat keahlian mereka dalam bermain musik maka makin tinggi pula pamor mereka (Sierjabaten) dimata masyarakat Karo.
Sierjabaten memiliki kehalian dalam bermain berbagai macam alat musik tradisional Karo yang terdiri atas Sarune, Gendang Singanaki, Gendang Singindungi, Gendang Penganak, dan Gung. Setiap pemain alat musik mempunyai nama masing-masing sesuai dengan alat musik yang mereka mainkan, pemain sarune disebut “panarune”, pemain gendang (singanaki dan singindungi) disebut “pengguna”, dan pemain penganak disebut “simalu penganak” dan pemain gung disebut “simalu gung” , serta pemain mangkuk michiho disebut “simalu mangku michiho”.
Dari keterangan di atas dapatlah kita mengetahui perbedaan setiap instrument-insturment musik tradisional yang dimiliki oleh masyarakat batak Toba dengan batak Karo. Salah satunya yaitu pada kelompok aerofon, dimana aerofon dikatakan alat musik yang menghasilkan bunyi akibat getaran udara. Kita dapat mengambil satu contoh instrument musik yang ada pada masyarakat batak Toba dengan Batak Karo, yaitu “Sarune”.

Sarune Batak Toba

Untuk mendeskripsikan musik dan ensambel musik, baik yang solo instrumen, pendekatan yang dilakukan adalah bersifat organologi dengan sistem pengklasifikasikan alat musik berdasarkan Horn von Bostel dan Curt Sach yang membag alat musik berdasarkan lima kategori besar, yaitu :
(1) Indiofon, yaitu alat musik denga karakter dimana badannya sendiri yang menghasilkan bunyi utama.
(2) Kardofon , yaitu alat musik yang suaranya dihasilkan akibat getaran senar atau dawai.
(3) Membranofon, yaitu alat musik yangmeghasilkan bunyi dari getaran membrane atau kulit.
(4) arefon, yaitu alat musik yang menghasilkan bunyi akibat getaran udara.
(5) elektrofon, yaitu alat musik yang bunyinya berdasarkan kekuatan listrik.
Meskipun pendekatan organologi tersebut untuk memudahkan masyarakat pendukung instrument musik tersebut, maka alat-alat musik tersebut juga dikelompokkan ke dalam masing-masing etnis dengan membagi lebih rinci lagi ke dalam system klasifikasi Curt Sach tersebut. khususnya tentang solo instrument, pendekatan yang dilakukan juga adalah lebih bersifat khusus. Seperti salah satu contohnya Sarune bolon (aerophone double red) yang mirip alat-alat yang bisa ditemukan di Jawa, India, Cina, dsb. Teknik yang digunakan dalam memainkan Sarune Bolon ini disebut dengan tehnik mersiulak hosa (kembalikan nafas terus-menerus) dan membiarkan pemain untuk memainkan frase-frase yang panjang sekali tanpa henti untuk tarik nafas. Sarune bolon dalam ensambel berfungsi sebagai pembawa melodi utama. Dalam gondang bolon biasanya hanya dimainkan satu buah saja. Pemainnya disebut parsarun.
Dalam budaya batak Toba, Sarune dibagi tiga macam yaitu : Sarune Bolon, Sarune Bulu, dan Sulim. Ketiganya ini memiliki fungsi yang berbeda dan cara pembuatannya pun tidak sama.

a.      Sarune Bolon

Sarune Bolon (aerophone double reed) adalah alat musik tiup yang paling besar yang terdapat pada masyarakat Toba. Alat musik ini digunakan dalam ensambel musik yang paling besar juga, yaitu gondang bolon (artinya : ensambel besar). Sarune bolon dalam ensambel berfungsi sebagai pembawa melodi utama. Dalam ensambel gondang bolon biasanya hanya dimainkan satu buah saja. Pemainnya disebut “parsarune”. Teknik bermain sarune ini adalah dengan menggunakan istilah “marsiulak hosa (circular breathing)”,  yang artinya, seorang pemain sarune dapat melakukan tiupan tanpa putus-putus dengan mengatur pernapasan, sambil menghirup udara kembali lewat hidung sembari meniup sarune. Teknik ini dikenal hampir pada semua etnis Batak. Tetapi penaman untuk itu berbeda-beda, seperti di Karo disebut pulunama. Sarune ini terbuat dari kayu dan terdiri dari tiga bagian utama, yaitu (1) pangkal ujung sebagai resonator, (2) batangnya, yang sekaligus juga sebagai tempat lobang nada, dan (3) pangkal ujung penghasil bunyi dari lidah (reed) yang terbuat dari daun kelapa hijau yang dilipat sedemikian rupa yang diletakkan dalam sebuah pipa kecil dari logam, dan ditempelkan ke bagian badan sarune tersebut.

b.      Sarune Bulu

Sarune bulu (sarune bambu) seperti namanya adalah sarune (aerphone – single reed, seperti Clarinet)  terbuat dari bahan bambu. Sarune ini terbuat dari sat ruas bambu yang kedua ujungnya bolong (tanpa ruas) yang panjangnya kira-kira lebih kurang 10-12 cm, dengan diameter 1-2 cm. bambu ini dibuat lobang 5 biji dengan ukuran yang berbeda-beda. Pada pangkal ujung yang satu diletakkan lidah (reed0 dari bambu yang dicungkil sebagian badannya untuk dijadikan alat penggetar bunyi. Lidahnya ini dimasukkan ke batang sarune tersebut, dan bisa dicopot-copot. Panjang lidah ini sendiri lebih kurang 5 cm. sarune ini di Mandailing juga dikenal dengan nama yang sama.

c.       Sulim

Sulim (Aerophone : side blown flute) adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu seperti seruling atau suling. Sulim ini panjangnya berbeda-beda tergantung nada dasar. Sulim ini memiliki banyak perbedaan dengan sulim-sulim yang lain, dimana perbedaannya adalah sulim ini selalu menghasilkan suara yang bervirasi. Hal ini dikarenakan adanya satu lobang yang dibuat khusus untuk menghasilkan vibrasi ini, yaitu satu lobang yang dibuat antara lobang nada dengan lobang tiupan dengan diameternya lebih kurang 1cm, dan lobang ditutupi dengan membran dari bahan plastik, sehingga suara yang dihasilkan adalah  bervibrasi.



 GONDANG BATAK

Secara gambaran umum ensambel musik tradisi Batak Toba dapat di bagi menjadi dua bagian besar, yaitu:
  1. Ensambel Gondang Sabangunan
  2. Ensambel Gondang Hasapi
Dari ke dua ensambel di atas yang paling besar dan sering digunakan untuk acara-acara besar adat Batak Toba adalah Gondang Sabangunan.

1. Ensambel Gondang Sabangunan

Adapun bentuk penyajian dan instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut:
  1. Instrumen leader adalah Sarune Bolon yang berfungsi sebagai pembawa melodi utama sesuai dengan gaya dan ciri khas alat musik tersebut.
  2. Taganing dan gordang sebagai pembawa melodi yang sifatnya lebih ritmis meningkahi (menjahit) permainan dari Sarune (Melodi utama}.
  3. Ogung yang terdiri atas(Oloan-Ihutan-Panggora-Doal) yang berfungsi sebagai pembawa tempo dan pengatur gerakan kaki pada tor-tor (tarian tradisional Batak Toba). 
  4. Hesek, sebagai ketukan dasar yang harus didengar oleh seluruh pemusik (pargonsi) sehingga ensambel Gondang Sabanguna menjadi harmonis.

2. Ensambel Gondang Hasapi


Alat musik yang dipergunakan di dalam penyajian Gondang Hasapi hampir sama dengan Gondang Sabangunan akan tetapi memiliki perbedaan, yaitu sebagai berikut :
Alat musik leader Sarune Etek (bentuknya lebih pendek sekitar 1 1/2 jengkal jari tangan} sebagai pembawa melodi utama sesuai dengan gaya dan ciri khas alat musik tersebut).
Alat musik pendamping leader Sulim (sejenis seruling dari bambu) juga memainkan melodi utama sesuai dengan gaya dan ciri khas alat musik tersebut).Taganing sebagai pembawa melodi yang sifatnya lebih ritmis meningkahi (menjahit) permainan dari 
Sarune
 (Melodi utama}.
Ogung yang terdiri atas(Oloan-Ihutan-Panggora-Doal) yang berfungsi sebagai pembawa tempo dan pengatur gerakan kaki pada tor-tor (tarian tradisional Batak Toba).
Hesek,sebagai ketukan dasar yang harus didengar oleh seluruh pemusik (pargonsi) sehingga ensambel Gondang Sabangunan menjadi harmonis.


ALAT MUSIK TRADISIONAL TAPANULI SELATAN


Alat musik Gondang Sambilan sudah ada di Kabupaten Mandailing Natal sejak ratusan tahun silam. Sebelum agama masuk ke Mandailing, pertunjukan Gondang Sambilan dilakukan untuk ritual kepercayaan. Namun sekarang alat musik ini dimainkan untuk upacara pernikahan adat, hajatan, perayaan, penyambutan tamu dan hiburan untuk masyarakat Mandailing. Pada zaman dulu Gondang Sambilan hanya dipertunjukan untuk kalangan istana. Setelah kemerdekaan barulah dipertunjukan untuk masyarakat umum.
Pada masa kolonial, kesenian ini menjadi hiburan para raja dan sebagai bentuk perlawanan terhadap kompeni Belanda. Ada bunyi tertentu yang ditabuh, menandakan kedatangan serdadu Belanda dan masyarakat diminta untuk segera mengungsi. Lalu ada tanda bunyi lainnya yang meminta masyarakat untuk kembali ke kampung karena serdadu belanda sudah pergi.
Ada beberapa versi yang menjelaskan mengapa ada kata “sambilan” atau angka sembilan yang menjelaskan jumlah gordang atau gendang. Seperti pada masa kerajaan dahulu, pemukul Gondang harus berjumlah sembilan orang, terdiri dari naposo bulung atau kaum muda, anak boru, kahanggi, serta raja itu sendiri.
Versi lain menyebutkan bahwa angka sembilan melambangkan sembilan raja yang saat itu berkuasa di tanah Mandailing Natal, yakni Nasution, Pulungan, Rangkuti, Hasibuan, Lubis, Matondang, Parinduri, Daulay, dan Batubara.

Perkembangan Alat Musik Gondang Sambilan
Dahulu orang-orang membuat sembilan lubang di tanah, lalu lubang-lubang tersebut ditutup dengan kulit kerbau sehingga menghasilkan bunyi-bunyian ketika ditepuk. Kini, alat musik Gondang Sambilan berkembang, masyarakat mengganti tanah dengan kayu. Kayu yang digunakan juga khusus untuk membuat gondang agar bunyi yang dihasilkan bagus. Selain itu, dulu, berdasarkan adat hanya laki-laki yang boleh memainkan alat musik ini. Tetapi bila sekarang ada perempuan yang ingin memainkan musik tersebut diperbolehkan.
Musik Gondang Sambilan oleh sembilan orang. Alat musik yang dimainkan terdiri atas sembilan gondang, seruling, tiga eneng-eneng, dua gong, sepasang sasayang, dan sebuah mong-mongan.
Suku Simalungun adalah salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia.
Simalungun dalam bahasa Simalungun memiliki kata dasar "lungun" yang memiliki makna "sunyi". Nama itu diberikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Orang Batak Toba menyebutnya "Si Balungu" dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Batak Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.





ALAT MUSIK TRADISIONAL MELAYU

Rebana

Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh. Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenekkenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.




Kordeon(accordion)

Kordeon adalah alat musik yang berasal dari Riau. Alat musik ini bias dimainkan dengan cara dipompa. Alat musik ini termasuk sulit untuk dimainkan. Tidak banyak yang dapat memainkannya.



 Gong

Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis.

Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.



 Kompang

Kompang merupakan alat musik Melayu yang paling populer saat ini, kompang banyak digunakan dalam berbagai acara-acara sosial seperti pawai hari kemerdekaan. Selain itu alat musik ini juga digunakan untuk mengiringi lagu gambus. Kompang memiliki kemiripan dengan rebana tetapi tanpa cakram logam gemerincing di sekelilingnya.

Kompang dimainkan mengikuti iramanya sendiri ketika mengiringi zikir, mengarak pengantin atau pembesar negara atau disatu majlis resmi. Kini permainan kompang telah mulai diajar di sekolah-sekolah serta pusat-pusat pengajian tinggi dan institusi kerajaan. Kompang juga masyur di kalangan masyarakat islam di Sabah dan dikalangan suku Bajau.



Marwas

Marwas adalah sebuah gendang yang berukuran lebih kecil dari gendang biasa, terbuat dari kulit kambing, kayu cempedak, dan rotan. Marwas termasuk salah satu alat dalam tarian music zapin. Dalam tataran music zapin, marwas berfungsi menjaga kestabilan intro dan melahirkan harmoni musical. Alat musik ini dapat juga berfungsi sebagai roffle ketukan atau mat. Alat musik ini di gunakan sebagai peningkah dalam musik pentas Mak Yong.

            Bahan-bahan pembuatan marwas terdiri dari kayu nangka tua, rotan untuk pengikat, kulit kambing atau kulit pelanduk. Bentuknya bulat tabung dengan berbagai variasi ukuran : diameter bagian atas 18,5 cm, tinggi kurang lebih 11 cm, diameter bawah 18,5. Marwas di mainkan secara bersamaan dengan Gambus dalam musik tarian zapin. Biasanya marwas terdiri dari tiga buah. Yang di mainkan oleh tiga orang pemain dengan pukulan yang berbeda-beda.



TARI TRADISIONAL SUMATERA UTARA

TARI NIAS (BALUSE BA TOHO)

Dalam tarian Tradisional Nias, Ono Niha menggunakan BALUSE BA TOHO sebagai peralatan tarian perang. BALUSE berasal dari bahasa Nias (Li Niha) yang artinya adalah PERISAI; TOHO berarti TOMBAK.
BALUSE BA TOHO (Perisai dan Tombak) yang digunakan dalam tarian perang adalah yang terbuat dari ukiran batang kayu yang sudah diukir sedemikian rupa yang memberikan ciri khas tersendiri.
Dalam Tarian Perang, BALUSE BA TOHO digunakan bersamaan oleh penari yang khususnya adalah kaum adam/ para Pria. Ketika tarian diberlangsungkan, BALUSE BA TOHO ini akan dipertunjukkan layaknya sedang berada di medan tempur dimana penari akan menunjukkan ketangkasannya sebagai pembela yang gagah dan berani. Historically, BALUSE BA TOHO ini dipergunakan oleh Ono Niha sebagai alat Perang. TOHO/ TOMBAK digunakan untuk melakukan aksi penyerangan terhadap musuh/lawan, sedangkan BALUSE/PERISAI dipergunakan untuk menahan serangan dari arah lawan/musuh. Alat lain yang seiring penggunaannya adalah BELEWAGARI.BELEWAGARI adalah bahasa Nias (Nias Selatan- South Nias), yang berarti Parang yang panjang dan sangat tajam yang sarungnya dibuat dari ukiran kayu untuk mencirikhaskan tradisi ONO NIHA (Masyarakat NIAS).


Adat Lompat Batu Suku Nias

Suasana Desa Baweu Mate Luwo sejak pagi telah ramai. Berbondong-bondong masyarakat pergi ke pancuran untuk mandi atau mengambil air. Letak desa yang tingi menyulitkan penduduk untuk memperoleh air. Air diperoleh penduduk dari mata air di atas bukit, yang kemudian dialirkan dengan pipa ke bak penampungan kemudian dialirkan lagi ke rumah-rumah penduduk di kampung.
Sementaara itu anak-anak bermain di halaman sambil menunggu ibu-ibu menyiapkan sarapan. Sejak kecil anak-anak telah dikenalkan dengan permainan lompat batu yang menjadi tradisi khas orang Nias.
Sebagaimana namanya Baweu Mate Luwo yang berarti Bukit Matahari, letaknya di puncak bukit. Untuk mancapainya kita harus meniti puluhan anak tangga. Rumah di desa ini tersusun rapi sepanjang lorong-lorong yang biasa menjadi pusat kegiatan masyarakat desa.Biasanya orang Nias menyebut rumah mereka dengan sebutan homo hada.Bentuk dan ukuran rumah semua dibuat sama, dengan bahan kayu hutan asli, serta atap rumbia.
Di tengah-tengah kampung berdiri rumah dari raja kampung yang disebut dengan Homo Sebua. Homo Sebua memiliki pondasi yang terbuat dari batang-batang pohon berukuran besar yang disusun saling bersilangan. Konon knstruksi bangunan ini tahan dari goncangan gempa bumi. Padahal dalam menyusun kayu pondasi, orang Nias tidak menggunakan paku.
Bentuk dan ukurannya berbeda dengan rumah-rumah lain di desa.
Pada dinding Homo Sebua tedapat hiasan berupa ukiran-ukiran khas budaya Nias. Jumlah ukiran pada Homo Sebua jumlahnya lebih banyak dari jumlah ukiran dari Homo Hada.
Penduduk Nias memeng terkenal sebagai pengrajin kayu handal. Sejak muda mereka terampil membuta ukiran dinding atau patung kayu. Bila ada turis yang datang, mereka menjajakan kerajinan tangan mereka sebagai souvenir.
Seusai mandi, penduduk lalu berhias untuk melakukan upacara tari perang. Tari perang yang biasa disebut tarian Faluaya merupakan salah satu kebudayaan khas Nias yang telah terkenal ke manca negara.
Bagi warga Nias, tarian Faluaya merupakan sebuah penghormatan kepada para leluhur mereka, yang dengan gagah berani mempertahankan tanah Nias dari serangan penajajah.
Warga menggunakan pakaian warna warni, mereka berkumpul di depan Homo Sebua atau rumah Raja.
Para pria yang berperan sebagai kesatria berdandan lengkap dengan pakaian perang. Tubuh mereka dihiasi berbagai atribut, menambah kesan seram yang akan membuat takut lawan mereka. Tangan kanan mereka memegang tombak atau parang yang menjadi senjata utama yang di gunakan ksatria Nias. Sementara tangan kirinya memegang perisai untuk menangkis serangan musuh.
Dibawah komandoi seorang kapiten atau komandan, ratusan warga menyusun formasi memulau tari Faluaya. Gerakan tari Faluaya sangat dinamis. Hentakan kaki diiringi lagu perang penuh semangat. Mereka terus menari sambil mengayun parang serta tombak.
Tarian dimulai dengan gerakan maju mundur sambil meneriakan yel-yel. Tujuannya untuk memancing agar maju menyerang. Kemudian dilanjutkan dengan membentuk formasi melingkar untuk mengepungf musuh yang telah terpancing maju. Setelah musuh masuk terkepung maka kesatria-kesatria Nias ini pun dengan mudah melumpuhkan musuh mereka.
Kebudayaan Nias merupakan perhiasan yang indah sebagaimana indahnya alam disana. Taruan Faluaya serta lompat batunya mencerminkan jiwa heroikmasyarakat suku Nias.
Selain mengunjungi desa kesatria Nias di Baweu Mate Luwo, Kami lalu menuju Gomo, letaknya hampir 3 jam berkendara dari Teluk Dalam. Setibanya di desa Tundrumbaho, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Lokasi yang kami tuju adalah tanah lapang tempat terhamparnya berbagai menhir dan berbagai bentuk patung batu peninggalan masa lalu. Behu yang merupakan monumen yang melambangkan laki-laki, serta Ni'ogadi merupakan lambang perempuan.
Selain itu masih ada berbagai bentuk perlengkapan rumah yang terbuat dari batu.
Situs megalitik Gomo merupakan kumpulan peninggalan zaman batu yang menceritakan kisah asal usul suku Nias. Usianya yang mencapai ratusan tahun membuktikan budaya Nias telah eksis sejak dahulu kala.
Prasasti batu yang ditemukan di sekitar lokasi membuktikan kebudayaan Nias dahulu kala telah mengenal tulisan.
Selain kampung kesataria, situs megalitik, kita juga bisa mengunjungi pantai sorganya peselancar. Kebanyakan peselancar adalah turis asing. Setiap tahunnya di pantai Lagundri ini diselenggarakan kejuaraan selancar Internasional yang menghadirkan peselancar kelas satu dari berbagai negara.


PERLENGKAPAN TARIAN ADAT HILINAWALÕ FA

A). ÖNDRÖRA adalah secarik kain (biasanya disebut" Selendang") yang dikenakan oleh pria sebagai perlengkapan Pakaian Tarian perang di Hilinawalo Fau. Uniknya, ÖNDRÖRA ini dikenakan di pinggang para pelaku tarian perang. Ini melambangkan kisah perjalanan kehidupan di masa perang dimana para pasukan perang harus mampu menahan rasa lapar bila sudah tiba di medan perang. Bagi masyarakat Hilinawalo Fau, mengikat pinggan dengan kain itu dapat menahan rasa lapar, sebab dalam perang, makanan bukan niat nomor satu bagi mereka namun menggapai tujuan adalah hal yang membanggakan. (ini hanya sekilas kisah perang). Seperti yang terlihat pada gambar. ÖNDRÖRA itu adalah yang dikenakan oleh seorang Hilinawalo Fau di pingganggnya (Kain berwarna kuning).
Ketentuan:
1. Untuk Si'ulu panjangnya hingga tumit kaki.
2. Untuk Si'ila panjangnya hingga pertengahan betis dengan tumit kaki. (agak Pendek dari Si'ulu)
3. Untuk Ono bwanua (Masyarakat biasa) panjangnya hanya sampai di lutut saja.


B). KALABUBU adalah sebuah perlengkapan tarian perang di Pulau Nias, yang khususnya dikenakan oleh para kaum adam/ Pria yang sedang melakukan aksi tarian perang di Hilinawalö Fau-Nias Selatan. KALABUBU dapat diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai kalung.

KALABUBU ini terukir dari bahan tradisionil yaitu dari kayu. Namun, KALABUBU ini sangat menampilkan nilai seni tersendiri sebagai khas dari Daerah HILINAWALÖ FAU.













TORTOR KARO

Tari Ndurung
Zaman dahulu kala, di dataran tinggi Karo Prop. Sumut. tinggalah seorang raja dengan istrinya beserta putri mereka yang sangat cantik. Pada suatu hari, putri raja sakit. Maka ratu menanyakan putrinya apa yang diinginkannya supaya dia cepat sembuh, kemudian putri raja tersebut mengatakan bahwa dia menginginkan seekor ikan dari perkebunan padi dan buah palma. Setelah itu raja memerintahkan rakyat supaya mencari apa yang diinginkan putrinya. Tarian ini menggambarkan bagaimana masyarakat Karo melakukan kegiatan mereka sehari-hari seperti bekerja di perkebunan padi, di lapangan dan mengambil buah palma dari hutan.



Tari Ndikkar
Ndikkar adalah bentuk pertahanan diri tradisional Karo atau Pencak Silat yang tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan kebudayaan masyarakat Karo. Ndikkar memiliki ciri-ciri : gerakan yang sangat lambat dan lembut tetapi di saat-saat tertentu gerakan tarian ini akan terlihat keras dan cepat. Khususnya masyarakat Karo, mereka mempelajari Pencak Silat hanya untuk pertahanan diri sendiri, tetapi sekarang tarian Ndikkar sebagian besar telah menjadi tarian kebudayaan.


Tari Baka
Print
Zaman dahulu kala, masyarakat di dataran tinggi Karo masih mengandalkan orang pintar atau paranormal. Hampir semua masalah yang ada disampaikan kepada orang pintar atau paranormal. Khususnya untuk masalah penyakit, masyarakat akan membawanya kepada orang pintar untuk disembuhkan. Dalam proses penyembuhannya orang pintar atau paranormal menggunakan sebuah keranjang dan mangkok khusus untuk tempat ramuan-ramuan obat. Oleh karena itu tarian ini menggambarkan bagaimana orang pintar atau paranormal tersebut menyembuhkan orang yang sakit.


Tari Tongkat 
 Beberapa tahun yang lalu masyarakat Karo masih mempercayai adanya kekuatan gaib dan roh halus. Dalam beberapa kegiatan kebudayaan, manusia yang memiliki ilmu gaib masih berperan penting untuk berhubungan dengan roh-roh halus. Tari Tongkat ini menggambarkan bagaimana manusia yang memiliki ilmu gaib ini mengusir roh-roh jahat yang masuk ke suatu tempat di pedesaan. Manusia tersebut menggunakan sebuah tongkat khusus yang disebut tongkat malaikat dan tongkat panaluan.






TORTOR MANDAILING

Kesenian tradisional tari Tor-tor merupakan sebuah hajatan atau penyambutan yang biasa dilakukan oleh suku Mandailing (Batak), Sumatra Utara untuk para tamu yang dihormati. Tari Tor-tor biasanya diiringi dengan sajian alat musik gondang 9.


Pada masa kolonial, kesenian ini menjadi hiburan para raja dan sebagai bentuk perlawanan terhadap serdadu Belanda. Ada bunyi tertentu yang ditabuh, menandakan kedatangan serdadu Belanda. Ketika gondang dibunyikan, masyarakat diminta mengungsi.



Suku Mandailing pun berbeda-beda dalam menyebut alat musik gondang. Mandailing yang bermukim di wilayah Angkola, Sidimpuan, Tapanuli Selatan, mengenal dengan sebutan gondang 2. Sebelumnya disebut gondang 7 di tiga wilayah itu. Hanya di Mandailing Natal yang sebutannya tetap sampai sekarang, gondang 9.


Adanya perubahan sebutan gondang 7 menjadi gondang 2 karena kesenian budaya ini sempat dilarang pada masa penjajahan. Mengingat sering digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap kompeni


Dari asal usul tari Tor-tor dan alat musik gondang 9 diatas tergambar dengan jelas bahwa kesenian ini adalah 100% milik bangsa Indonesia. Untuk itu kita sebagai warna negara Indonesia sudah sepatutnya untuk terut serta mebudidayakan tari Tor-tor, dan juga menjaganya agar tidak diambil oleh negara lain. Pepatah bijak mengatakan "Sesuatau baru akan terasa sangat berharga jika itu sudah hilang dari genggaman kita".










TOR TOR

Tortor Batak kini menyedot perhatian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Batak. Berbagai komentar di situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter sangat ramai dan menunjukkan kegeraman yang ditujukan ke negeri jiran Malaysia.

Hal ini berawal dari berita di Bernama.com yang mengatakan bahwa Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Dr Rais Yatim Tari akan mendaftarkan tarian tortor dan gordang sembilan dalam warisan budaya nasional Malaysia. Kedua kesenian itu akan didaftarkan dalam Seksyen 67 sebagai Akta Warisan Kebangsaan 2005. Rais menyampaikan rencana itu saat gathering masyarakat Mandailing di Malaysia.

Pernyataan Rais itu langsung memicu reaksi keras masyarakat Indonesia apalagi selama ini Malaysia sudah banyak mengklaim warisan budaya Indonesia sebagai miliknya. Mampukah Malaysia mengklaim tortor ini yang jelas-jelasnya milik suku Batak dan tidak mudah melakonkannya?

Untuk lebih memahami tortor dan segala aspek yang berhubungan dengannya, mari kita simak sekilas sejarah tortor berikut.

Menurut sejarah, awalnya tari tortor dilakukan saat acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu (merupakan simbol dari leluhur), lalu patung tersebut bergerak seperti menari. Banyak jenis tortor yang digunakan etnis batak dalam setiap acara yang dilakukan. Ada yang dinamakan tortor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar dimana terlebih dahulu tempat dan lokasi pesta dibersihkan sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut. Ada juga tortor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi disebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung). Kemudian ada tortor Tunggal Panaluan yang biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah, maka tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk mengatasi musibah tersebut. Ada lagi tortor sigale-gale yang dilakonkan sebuah patung kayu yang menggambarkan rasa cinta seorang raja terhadap anak tunggalnya yang meninggal akibat serangan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Dalam manortor (menari) secara umum menggambarkan permohonan kepada roh-roh leluhur agar diberi keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah. Saat manortor banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin dan lain lain.

Didalam manortor (menari) orang Batak selalu menggunakan Ulos dan alat musik ( gondang ) yang terdiri dari ogung sabangunan yang terdiri dari 4 ogung. Kalau kurang dari empat maka dianggap tidak lengkap. Akan lebih lengkap lagi kalau ditambah dengan alat kelima yang dinamakan Hesek. Kemudian Tagading yang terdiri dari 5 buah, dan Sarune (sarunai harus memiliki 5 lobang diatas dan satu dibawah).
Tortor biasanya didahului dengan Gondang Mula-mula, Gondang Somba, Gondang Mangaliat, Gondang Simonang-monang, Gondang Sibungajambu, Gondang Marhusip, dan seterusnya yang diakhiri dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio.

Secara garis besar, terdapat empat gerakan dalam tortor. Pertama adalah Pangurdot, gerakan yang dilakukan kaki, tumit sampai bahu. Kedua adalah Pangeal, merupakan gerakan yang dilakukan pinggang, tulang punggung sampai bahu/sasap. Ketiga adalah Pandenggal, yakni gerakan tangan, telapak tangan dan jari-jarinya. Gerakan keempat adalah Siangkupna yakni menggerakan bagian leher.

Dalam acara tortor biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin kelompok tortor dan pengatur acara (peminta gondang) yang berkemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang.

Saat ini makna dan tujuan tortor semakin berkembang. Tortor sudah tidak lagi diasumsikan lekat dengan dunia roh. Tortor menjadi sebuah budaya dan seni yang sudah dikenal masyarakat dunia sebagai budaya tanah air. Tortor yang dilakukan saat ini mencakup pesta adat perkawinan, pesta peresmian rumah parsattian, pesta tugu, pesta membentuk huta/perkampungan, bahkan kalangan pemuda menggelar "pesta naposo"sebagai ajang hiburan dan perkenalan (mencari jodoh). Pesta Naposo, di beberapa daerah disebut juga pesta rondang bulan (Samosir), pesta rondang bintang (Simalungun).

Dalam rangka rangka pelestarian seni budaya, tortor sudah sering diperlombakan dalam bentuk festival tortor. Bahkan dalam setiap acara perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, berbagai kecamatan di wilayah Silindung, Humbang I, Humbang II, Toba dan Samosir menggelar Festival Tortor Tingkat Kabupaten, dan selanjutnya juara-juara menjadi peserta pada Festival tortor di tingkat Propinsi.

Tarian budaya suku Batak ini sudah seringkali muncul di televisi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Hampir setiap turis asing yang telah mengunjungi Sumatera Utara, telah mengenal tortor dan mereka sering ikut manortor. Apalagi jika ada acara-acara resmi yang dilakukan pemerintah untuk menyambut para wisatawan asing, tortor digunakan sebagai hiburan dalam menyambut mereka.

Perkembangan selanjutnya hingga memasuki abad modern, masyarakat Batak membawa seni budaya ini ke tanah perantauan di luar Tapanuli hingga ke luar negeri yang memberi hiburan ke masyarakat dunia dan menjadi simbol etnis Batak.

Bagaimanapun juga, tortor Batak adalah identitas seni budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Dalam tortor Batak terdapat nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda. HORAS..










TARI SERAMPANG DUA BELAS

Tari Serampang Duabelas merupakan kesenian tari tradisional yang berasal dari Melayu. Waktu itu berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian Serampang Dua Belas diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960. Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.
Mengapa Tari Pulau Sari diganti dengan nama tari Serampang Dua belas.Inilah alasannya :
• Nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step). Menurut Tengku Mira Sinar, nama tarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang .
• Penamaan Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih. Penjelasan tentang ragam gerak Tari Serampang Duabelas akan dibahas kemudian.
Menurut Tengku Mira Sinar, Asal usul tari Serampang Dua Belas merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan kedinamisan irama musik pengiringnya.
Asal usul tari Serampang Dua Belas berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna. Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Namun demikian, pada awal perkembangannya tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar